FAKTOR TRANSFORMASI RUMAH DI PERUMAHAN GRIYA MUKTI SEJAHTERA

Posted: Januari 14, 2012 in Uncategorized
Abstrak Peran rumah bagi kehidupan yang dinamis sangat mutlak, karena rumah bukan hanya sekedar tempat bernaung dari kondisi alam yang tidak selamanya menguntungkan, melainkan rumah sebagai tempat tinggal harus memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi kehidupan.  Developer pembangunan perumahan untuk masyarakat golongan menengah kebawah pada umumnya membuat rancangan dan konsep perumahan yang sangat minim standar, yang pada akhirnya rumah tersebut dalam jangka waktu tertentu akan mengalami tranformasi rumah yang dilakukan oleh para penghuninya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor-faktor yang  mempengaruhi transformasi rumah yang dilakukan oleh pemiliknya dan seberapa berperan penting faktor ekonomi penghuni, factor jumlah anggota keluarga dapat mempengaruhi transformasi rumah. Untuk mengetahui  perubahan apa saja yang terjadi dan factor yang mempengaruhi dilakukannya untuk mengadakan transformasi rumah, pengolahan dan analisa data dilakukan secara deskriptif dan inferensi, sedangkan untuk mengukur hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat digunakan tabulasi silang (Crosstab) dan Chi-Square. Dari hasil pengolahan data dan analisa, bahwa ruang dapur adalah yang paling banyak dirubah sedangkan faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor ekonomi penghuni dan jumlah anggota keluarga. Kata kunci : Transformasi Rumah

PENDAHULUAN

6.1. Latar Belakang .

Ketentuan Pasal 28h ayat (1) UUD 1945 Perubahan Kedua secara jelas menjamin bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Demikian halnya konsideran huruf a UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman menyatakan dalam pembangunan nasional perumahan dan permukiman yang layak, sehat, aman, serasi dan teratur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat. Indonesia masih menghadapi masalah yang sangat krusial dalam penyediaan perumahan yang layak bagi masyarakat. Walau berbagai usaha telah dilakukan, baik dalam hal pengadaan perumahan langsung maupun penyediaan bantuan teknis dan perbankan serta pemberdayaan masyarakat, namun masalah perumahan di Indonesia masih tetap akut. Satu masalah utama adalah kesenjangan yang besar antara permintaan dan penyediaan rumah. Dari sekitar satu juta rumah yang harus dibangun setiap tahun, pemerintah hanya mampu menyediakannya paling banyak 200 ribu rumah (lihat Kompas, 7 Maret 2001; 15 Mei 2001; Balipos, 13 Maret 2001). Dalam masa krisis, kemampuan pemerintah dalam membangun rumah baru terus menurun. Akibatnya kesenjangan antara permintaan dan penawaran perumahan terus melebar. Namun demikian, melalui kemampuannya sendiri, masyarakat mengada-kan pengembangan serta perbaikan kondisi rumahnya, baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Kegiatan transformasi atau pengembangan rumah ini telah terbukti di banyak negara memberikan sumbangan yang luar biasa untuk memperbaiki kondisi perumahan masyarakat secara keseluruhan.

6.2.Perumusan Masalah .

Masalah utama yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah :

a.    Faktor-faktor apakah yang signifikan mempengaruhi transformasi rumah?

b.    Apakah faktor ekonomi penghuni rumah tangga berperan penting dalam           transformasi rumah?

c.     Apakah faktor jumlah anggota keluarga merupakan faktor penting dalam           pengambilan keputusan untuk transfor-masi rumah?

6.3. Tujuan Penelitian .

Penelitian ini bertujuan untuk :

a.    Mengetahui sejumlah faktor yang mempengaruhi transformasi rumah.

b.    Mengetahui tingkat pentingnya faktor ekonomi penghuni terhadap                       transformasi rumah.

c.    Mengetahui tingkat pentingnya faktor jumlah anggota keluarga terhadap           transformasi rumah.

6.4. Batasan Penelitian

Lingkup penelitian ini pada perumahan kelas menengah kebawah, yang pada umumnya dikategorikan rumah tumbuh, dimana luas lahan masih memungkin untuk dapat dikembangkan.

6.5.Manfaat Penelitian .

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teori tentang berbagai faktor yang mempengaruhi transformasi rumah. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan dasar untuk menentukan arah pengembangan program bidang perumahan di Indonesia, setidaknya dalam menentukan model intervensi yang bagaimana yang tepat dilakukan untuk memperbaiki kondisi perumahan di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ruang dan Perilaku Arsitektur.

Ruang adalah system lingkungan binaan terkecil yang sangat penting, terutama karena sebagian besar waktu manusia modern saat ini banyak dihabiskan didalamnya (Haryadi & Setiawan, 1995). Jika ditinjau dari kajian arsitektur lingkungan dan perilaku, ruang didefinisikan sebagai suatu petak yang dibatasi oleh dinding dan atap, baik oleh unsur permanen maupun tidak permanen.

2.1.1. Teritorialitas (Terriotoriality)

Menurut Edney (dalam Laurens, 2004) teritorialitas adalah sebagai  sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan, pertahanan yang eksklusif, personalisasi, dan identitas. Termasuk juga dominasi, kontrol, konflik, keamanan, gugatan akan sesuatu, dan pertahanan. Altman (1975) membagi teritori menjadi tiga kategori yang dikaitkan dengan keterlibatan personal (personal), involvement, kedekatan dengan kehidupan sehari-hari individu atau kelompok, dan frekuensi penggunaan. Tiga kategori tersebut adalah:

a. Teritori utama (Primary)

b. Teritori sekunder (Secondary)

c.  Teritori public .

 

2.1.2. Privasi (Privacy)

Privasi adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mengendalikan interaksi mereka dengan orang lain baik secara visual, audial, maupun olfaktori untuk mendapatkan apa yang diinginkannya (Rapoport, 1977).  Altman (1975), berpendapat bahwa privasi sebagai kontrol selektif dari akses pada diri sendiri ataupun kelompok. Holahan (dalam Laurens, 2004) membagi privasi menjadi dua golongan:

1. Golongan pertama adalah    keinginan untuk tidak diganggu secara fisik:

    a. Keinginan untuk  menyendiri (solitude),diperoleh dengan cara                                membatasi       diri dengan elemen tertentu sehingga bebas melakukan                  apa saja dan bebas dari  perhatian orang.

b. Keinginan menjauh (seclution), meng-hindari diri dari pandangan dan                gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas.

c. Keinginan untuk intim dengan orang sekitar (intimacy).

2. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri                           sendiri.

    a.  Keinginan merahasiakan diri sendiri (anonymity).

    b.  Keinginan untuk tidak mengungkap kan diri terlalu banyak pada orang

          lain (reserve).

     c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan para tetangga (not neighboring).

 

2.1.3. Fungsi Ruang

Pengertian fungsi adalah pemikiran-pemikiran yang sangat sederhana untuk membuat sesuatu (Hendraningsih, dkk, 1982).

Batasan fungsi dalam arsitektur adalah pemenuhan terhadap aktivitas manusia, tercakup di dalamnya kondisi alami. Bangunan yang fungsional adalah bangunan yang dalam penggunaannya dapat memenuhi kebutuhan secara tepat dan tidak mempunyai unsur-unsur yang tidak berguna.

2.1.4. Aktivitas

Aktivitas yang akan diuraikan pada sub bab ini dikaitkan dengan perilaku dimana pandangan hidup, kepercayaan yang dianut, nilai-nilai serta norma-norma yang dipegang seseorang akan mencerminkan perilaku orang tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rapoport (1977) bahwa konteks kultural dan sosial akan menentukan sistem aktivitas atau kegiatan manusia. Oleh Bechtel dan Zeisel (dalam Haryadi dan Setiawan, 1995), kegiatan atau aktivitas didefinisikan sebagai apa yang dikerjakan oleh seseorang pada jarak waktu tertentu , yaitu:

a. Pelaku.

b. Macam kegiatan.

c. Tempat.

d. Waktu berlangsungnya kegiatan.

 

2.1.5. Hirarki Ruang

Prinsip hirarki berlaku secara umum, walaupun terdapat perbedaan diantara bentuk-bentuk dan ruangnya.

Perbedaan ini menggambarkan derajat kepentingan dari bentuk dan ruangnya, serta peran-peran fungsional, formal dan simbolis yang dimainkan di dalam organisasinya.

Suatu bentuk atau ruang yang dianggap penting atau menonjol terhadap suatu organisasi harus dibuat unik.

Hal ini dapat dicapai dengan menegaskan bentuk atau wujud dengan:

a. Ukuran yang luar biasa.

b. Wujud yang unik.

c. Lokasi yang strategis.

Hirarki ruang ini terbagi atas tiga kategori berdasarkan seperti yang tersebut di atas:

a.  Hirarki menurut ukuran. Pada umumnya keadaan dominan ini diperlihatkan melalui ukuran unsurnya yang tidak seperti biasa (tidak lazim). Suatu unsur dapat juga mendominasi dengan menonjolkan ukuran yang lebih kecil dari yang lain di dalam organisasi.

b. Hirarki menurut wujud Sebuah ruang atau bentuk dapat terlihat dominan dan menjadi penting dengan   membedakan wujudnya secara jelas dari unsur-unsur lain di dalam komposisi nya.

c. Hirarki menurut penempatan Ruang atau bentuk dapat ditempatkan secara strategis agar perhatian tertuju padanya sebagai unsur yang paling penting di dalam suatu komposisi. Lokasi-lokasi penting secara hirarki meliputi:

1. Akhiran pada suatu rangkaian linier atau organisasi sumbu.

2.  Pusat dari suatu organisasi simetris.

3. Fokus dari organisasi terpusat atau radial.

4. Terletak di atas, di bawah atau di dalam bagian dalam suatu komposisi.

 

2.1.6. Organisasi Ruang

Beberapa bangunan sebenarnya terdiri dari beberapa ruang mandiri.

Ruang-ruang tersebut umumnya tersusun atas sejumlah ruang yang berkaitan erat satu sama lain menurut fungsi, jarak, atau alur gerak.

Cara penyusunan ruang-ruang dapat menjelaskan tingkat kepentingan dan fungsi serta peran simbolis ruang-ruang tersebut di dalam organisasi bangunan.

Jenis organisasi yang harus digunakan pada suatu bangunan bergantung kepada:

1. Kebutuhan atas program bangunan, se-perti pendekatan fungsional, ukuran, hirarki ruang, pencapaian, pencahayaan, dan view.

2. Kondisi eksterior tapak yang mungkin akan mempengaruhi organisasi ruang.

Bentuk-bentuk organisasi ruang terdiri dari:

1. Organisasi terpusat Merupakan komposisi terpusat dan stabil yang terdiri dari sejumlah ruang    sekunder, dikelompokkan mengelilingi sebuah ruang pusat yang luas dan   dominan.

2. Organisasi linier Organisasi linier pada dasarnya terdiri dari sederetan ruang, yang dapat   berhubungan secara langsung satu dengan yang lain, atau dihubungkan   melalui ruang linier yang berbeda dan terpisah.

3. Organisasi radial Memadukan unsur-unsur terpusat maupun linier. Organisasi ini terdiri dari ruang pusat yang dominan di mana organisasi liniernya berkembang menurut arah jari-jarinya. Organisasi radial adalah sebuah bentuk yang ekstrovert.

4. Organisasi cluster Merupakan kelompok ruang berdasarkan kedekatan hubungan atau bersama-sama memanfaatkan satu ciri atau hubungan visual.

5. Organisasi grid Organisasi grid terdiri dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang yang posisinya dalam ruang dan hubungan antar ruang diatur oleh pola atau bidang grid tiga dimensi.

2.2. Rumah

Dalam pengertian yang luas, rumah tinggal bukan hanya sebuah bangunan (structural), melainkan juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi kehidupan.

Rumah bukan hanya sekedar sebuah bangunan untuk tempat tinggal. Dari rumah dan lingkungannya, penghuni dibentuk dan dikembangkan menjadi manusia yang berkepribadian.

Menurut Meganada (dalam Dewi & Swanendri, 2007), konsep rumah dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.   Rumah sebagai pengejawantahan jati diri: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera penghuninya.

2.   Rumah sebagai wadah keakraban: rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan,   kasih, dan rasa aman.

3.   Rumah sebagai tempat menyendiri dan menyepi: tempat melepaskan diri dari dunia luar dan rutinitas.

4.   Rumah sebagai akar dan kesinambungan: rumah atau kampung halaman dilihat sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan suatu rumah:

1. Faktor kultur Pada umumnya setiap daerah mempunyai konsep yang berbeda-beda       mengenai bentuk rumahnya yang dipengaruhi oleh konsep kultural yang berbeda mengenai bentuk dan pola rumah.

2. Faktor religi Dalam masyarakat tradisional rumah merupakan wujud mikro dari makro kosmos yaitu alam semesta. Setiap unsur yang membentuk rumah  melambangkan unsur tertentu dari alam.

3. Faktor perilaku Perilaku dan lingkungan fisik saling mempengaruhi dan akhirnya        mewujudkan suatu pola kehidupan yang spesifik.

2.3. Perubahan Rumah

Menurut Kellet, et.al. (1993), alasan seseorang melakukan perubahan berasal dari ‘hubungan timbal balik antara penghuni dengan tempat tinggalnya’.

Alasan ini juga bergantung kepada kondisi penghuni, aspek fisik dari tempat tinggal, dan persyaratan sosio budaya dari penghuni itu sendiri.

Para penghuni memperbaiki dan mengubah struktur fisik rumah berdasarkan harapan dan kebutuhan mereka masing-masing. Perubahan dalam aspek fisik juga memperlihatkan kemampuan dan kapabilitas pemakai dalam melakukan perubahan tempat tinggal.

Keuntungan yang diperoleh dalam melakukan perubahan rumah yaitu dapat memperbaiki standar kualitas rumah, seperti memperbaiki penampilan fisik rumah (konstruksi, bahan, finishing), menyediakan ruang yang lebih luas kepada rumah tangga inti (main household), tersedianya ruang yang lebih banyak per orang, menurunkan tingkat okupansi, dapat mengakomodasi lebih banyak orang tanpa harus memperluas kota (untuk penyewa, dll), dan dapat meningkatkan kepuasan pemilik dan penghuni rumah itu sendiri (Tipple, 1999).

Selain hal tersebut di atas, perubahan rumah ini memberi dampak yang positif terhadap ekonomi, yaitu dengan menyediakan ruang yang lebih banyak untuk menghasilkan uang melalui ‘home-based enterprises’ dan penyewaan, meningkatkan investasi yang memicu aktivitasekonomi. Peranan penghuni dalam perubahan terhadap rumah diperkuat oleh penelitian Amad (2000) di Nablus, Palestina. Beliau menyimpulkan bahwa:

1.      Selama awal hingga pertengahan era 1920-an para penghuni rumah di Palestina memberi kontribusi yang besar dalam konsep desain rumah.

2.      Perubahan atau perkembangan desain rumah dapat dilihat sebagai sebuah proses organik yang normal. Perubahan ini dipengaruhi oleh aspek sosial budaya, politik,    ekonomi, dan lingkungan.

3.      Kontribusi penghuni dapat dikategorikan dalam dua hal, yaitu penghuni    mempertahankan bentuk yang ada dan penghuni mengadakan perubahan desain rumah.

4.      Aspek yang tetap dipertahankan adalah jalur sirkulasi dan pemisahan antara ruang    publik dan ruang privat.

5.      Aspek yang berubah adalah luasan ruang dan orientasi dalam rumah.

Terkadang dalam mengakomodasi-kan perubahan yang dibutuhkan, penghuni rumah melakukan beberapa penyesuaian diri, yang terbagi atas empat bentuk, yaitu (Sinai, 2001):

1. Adaptasi peraturan keluarga; di mana keluarga akan merubah peraturan (norma-norma) untuk beradaptasi dengan kondisi perumahan.

2.  Struktur adaptasi keluarga; di mana terjadi pengelompokan komposisi dan organisasi adaptasi untuk perumahan ini.

3.  Mobilitas tempat tinggal; termasuk migrasi dan antar mobilitas urban.

4.  Merubah tempat tinggal agar menjadi lebih layak. Menyinggung faktor yang berkaitan dengan pendapatan, berdasarkan penelitian di Ghana, Mesir, dan Bangladesh, Tipple, et.al. (2000) menyimpulkan bahwa pendapatan memiliki efek penting terhadap keputusan untuk melakukan perubahan.

Kondisi finansial yang lebih baik, memberi peluang untuk mengadakan perubahan yang lebih besar.

Para penghuni yang memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi mempunyai peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga mempunyai pendapatan yang cukup besar.

Mereka mempunyai standar kualitas rumah yang lebih baik sehingga mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan perubahan rumah (Sueca, 2005).

Perubahan terhadap rumah membawa kepada pemahaman yang mendalam bahwa kualitas rumah berbanding lurus dengan kemampuan ekonomi seseorang atau sebuah keluarga.

Sebagaimana diungkapkan oleh Yudohusodo (1991) bahwa masyarakat miskin di kota ternyata mampu membangun rumahnya sendiri dengan proses bertahap, mula-mula dengan bahan bangunan bekas atau sederhana tetapi lambat laun diperbaikinya menjadi bangunan berkualitas baik, permanen bahkan beberapa rumah telah bertingkat. Berdasarkan ukuran dan komposisi rumah tangga, Tipple (2000) berpendapat bahwa rumah tangga dengan jumlah yang lebih besar mempunyai korelasi positif terhadap perubahan rumah.

Rumah tangga yang terdiri atas lebih banyak orang dewasa besar kemungkinan mengalami perubahan dibandingkan dengan rumah tangga yang masih memiliki anak kecil.

Pada saat anak-anak beranjak dewasa, mereka membutuhkan privasi yang lebih tinggi, sehingga tekanan terhadap kebutuhan rumah meningkat.

Perumahan yang ditujukan untuk golongan masyarakat berpenghasilan rendah, biasanya rumah yang disediakan oleh pihak pengembang hanya terdiri dari satu kamar tidur dan kamar mandi tanpa adanya dapur ataupun ruang lainnya, sehingga mengharuskan penghuni untuk mengadakan perluasan untuk menampung aktivitas rumah tangga (Sueca, 2005).

Ditambahkan oleh Garrod, et.al. (dalam Sueca, 2005) bahwa mereka yang mempunyai ruang lebih sedikit, besar kemungkinan mengadakan perluasan rumah dibandingkan dengan mereka yang memiki ruang yang lebih banyak. Budihardjo (1997) menyatakan bahwa bahwa pada dasarnya membangun rumah adalah merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh pribadi, keluarga atau masyarakat sendiri.

Namun sekarang ini pembangunan perumahan telah menjadi suatu kegiatan industri yang sangat kompleks dan canggih, yang dianggap sekedar sebagai komoditi, sebagai produk akhir barang jadi, sebagai shelter. Aspek-aspek sosial budaya, kesejahteraan ekonomi, tata nilai dan perilaku manusianya lepas dari pengamatan.

Menurut Budihardjo, wawasan terlalu ditekankan pada pencapaian target fisik dan kuantitas pengadaan rumah dengan perencanaan model prototype, menggunakan komponen bangunan produk teknologi mutakhir yang serba prefab dan standar, tanpa mempedulikan keunikan dan potensi lokal.

Beliau mengingatkan bahwa perumahan merupakan proses kegiatan membangun secara evolusioner, menerus dan incremental. Sama sekali bukan suatu hasil yang mandeg.

Pada akhirnya Budihardjo menekankan perlunya memberikan kesempatan atau peluang bagian setiap keluarga untuk dapat mengejawantahkan diri, berkreasi sarat dengan inovasi, merencana dan membangun rumahnya dengan penuh keluwesan agar selalu tanggap terhadap setiap perubahan.

Ditambahkan juga oleh Akil (2004) bahwa definisi operasional rumah layak huni adalah:

1. Luas lantai minimal 7-9 m2 per kapita.

2.  Adanya keterjaminan hak atas tanah untuk bermukim (land tenure security).

3. Terpenuhinya pelayanan prasarana dan sarana dasar lingkungan.

4.  Kualitas struktur konstruksi bangunan yang memenuhi persyaratan teknis.

 

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Konseptual Penelitian.

Banyak yang telah melakukan riset dalam bidang transformasi rumah, tetapi masih tetap sulit untuk menentukan faktor-faktor apa yang menentukan orang untuk mengembangkan rumahnya. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa  faktor yang dapat diidentifikasi sebagai faktor pengaruh transformasi rumah, yakni faktor yang terkait dengan penghuni, yaitu faktor yang terkait dengan tingkat pendapatan penghuni, jumlah awal penghuni dan jumlah anggota keluarga. Di antara karakteristik penghuni, beberapa faktor dapat dikenali, seperti pendapatan, besar kecilnya serta komposisi rumah tangga, siklus kehidupan rumah tangga, persepsi, preferensi, motivasi, serta alasan-alasan lainnya, umur, jenis kelamin, keterampilan, pengalaman, inisiatif, ketersediaan energi, waktu, dan sebagainya. Rumah tangga yang matang atau lanjut umumnya terdiri atas lebih banyak orang dewasa dan besar kemungkinannya akan melakukan transformasi dibandingkan dengan mereka yang baru berumah tangga. Siklus kehidupan rumah tangga juga dianggap memiliki pengaruh terhadap kebutuhan akan rumah yang tumbuh sampai dengan ketika anak-anak meninggalkan rumah karena harus memisahkan diri dengan orang tua, diikuti dengan penurunan kebutuhan setelah itu.   Pasangan yang baru menikah mungkin memerlukan hanya satu ruang, tetapi mereka akan membutuhkan lebih banyak ruang dan ruang-ruang terpisah pada saat memiliki anak, serta ketika mereka tumbuh semakin besar dan menjadi dewasa. Kebutuhan ini akan menurun jika anak-anak pergi dan membentuk rumah tangga baru. Maka variabel dalam penelitian ini terdiri dari:

a.    Variabel bebas (independent), adalah merupakan variabel penyebab perubahan nilai pada variable lain (dependent) atau variabel yang mempengaruhi, yaitu : X1 : Pekerjaan X2 : Tingkat Ekonomi Penghuni X3 : Lama Menghuni X4 : Jumlah Penghuni Awal X5 : Pendidikan X6 : Type Rumah Awal

b.    Variabel terikat (dependent), merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas, yaitu : Y1 : Perubahan Ruang

3.2. Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan awal yang masih bersifat sementara yang akan dibuktikan kebenaranya setelah data empiris diperoleh. Ketika orang semakin dewasa, maka kemungkinan besar mereka akan mentransformasi dibandingkan dengan mereka yang lebih muda. Demikian pula mereka yang tinggal lebih lama memiliki korelasi erat dengan transformasi. Pemilik lebih memungkinkan untuk mengadakan transformasi dibandingkan dengan mereka yang mengontrak karena keterkaitan dengan hak. Sebagai refleksi dari pendapatan, diharapkan bahwa pengeluaran akan memiliki korelasi positif dengan keputusan untuk ekstensi. Orang dengan pendidikan lebih tinggi mungkin memiliki peluang yang lebih baik untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, oleh karena itu kemungkinan memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan dan membiayai perluasan rumah. Mereka juga memiliki persepsi yang lebih baik tentang standar kualitas rumah. Oleh karena itu mungkin dapat diharapkan bahwa mereka memiliki kecenderungan lebih besar untuk mentransformasi rumahnya dibandingkan dengan yang berpendidikan lebih rendah. Karena jumlah anggota rumah tangga, keluarga besar nampaknya cenderung memperluas rumahnya dibandingkan dengan keluarga inti. Besarnya rumah tangga juga diprediksi sebagai faktor utama untuk transformasi. Semakin besar rumah tangga, maka kemungkinan memiliki efek positif terhadap transformasi. Demikian juga pendapatan per kapita mungkin merefleksikan karakteristik pendapatan rumah tangga, sehingga mereka yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi akan menyebabkan kemungkinan transformasi lebih tinggi.

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian.

Metode penelitian dalam penulisan ini dapat dikategorikan sebagai metode deskriptif kemudian dilakukan metode inferensi (penarikan kesimpulan). Yang dimaksud dengan metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Yang dimaksud dengan metode inferensi adalah  metode statistik untuk menaksirkan dan/atau menguji karaktetistik populasi yang dihipotesiskan berdasarkan data sampel hasil dari metode deskriptif.

4.2.Variabel Penelitian

Variabel adalah karakteristik yang akan diobservasi dari satuan pengamatan. Yang menjadi variabel dalam penelitian ini terdiri dari:

a.  Variabel bebas (independent), merupakan variabel penyebab perubahan nilai pada variable lain (dependent) atau variabel yang mempengaruhi, yaitu ekonomi penghuni dan jumlah anggota keluarga.

b. Variabel terikat (dependent), merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas, yaitu Perubahan ruang.

4.3.Skala Pengukuran Variabel

Maksud dari skala pengukuran ini untuk mengklarifikasi variabel yang akan diukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya.

4.4.Populasi Penelitian dan Cara Pengambilan Sampel.

4.4.1. Populasi.

Populasi berarti keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin diteliti. Populasi sampel pada penelitian ini adalah semua unit rumah yang berada di kawasan Perumahan Griya Mukti Sejahtera.

4.4.2. Sampel.

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya (Sugiarto, dkk, 2003). Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara tidak random atau bersifat purposive. Purposive sampling adalah penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan yang dikehendaki peneliti. Pemilihan sampel  rumah yang akan dijadikan sampel penelitian harus mempunyai kriteria sebagai berikut:

a. Sesuai dengan jenis tipe yang dipilih, yaitu tipe 21, 36, dan 45

b.  Kepemilikan rumah harus milik sendiri yang dari awal sampai sekarang  menghuni rumah tersebut.

c.  Dipilih rumah yang sudah ada perubahan. Perubahan ini dibagi lagi menjadi perubahan banyak, perubahan sedang, dan perubahan sedikit. Untuk rumah yang mengalami perubahan yang banyak diasumsikan telah berubah ± 80%, perubahan sedang ± 50%, dan perubahan sedikit ± 20%.

4.5. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah: a).  Data Primer. b).  Data Sekunder

4.6.Lokasi Penelitian.

Penelitian Faktor Transformasi Rumah pada Permukiman Perumahan Griya Mukti Sejahtera, yang berada di Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda.

4.7. Metode Analisa Data.

Untuk memilih test statistik yang cocok dengan cara memeriksa hal-hal sebagai berikut :

1.    Kondisi/karakter data yang akan dianalisis dan bagaimana skalanya.

2.    Dengan cara apa pengambilan dan besaran sampel.

3.    Kondisi pada point diatas apakah memenuhi salah satu asumsi untuk digunakan test parametrik atau non parametrik.

4.    Menentukan test parametrik/non parametric

4.7.1. Uji Validitas. Uji validitas yang digunakan adalah uji validitas kontras yaitu validitas yang berhubungan dengan pelaksanaan survey, apakah responden benar-benar memberikan informasi yang benar terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dengan perumusan hipotesis : H0 : Pertanyaan yang tidak dapat mengukur aspek yang sama H1 : Pertanyaan yang mengukur aspek yang sama.

rtabel <             rxy
Ho diterima

Gambar.4.5. Kurva Uji Validitas

ANALISA HASIL PENELITIAN  DAN PEMBAHASAN.

5.1. Karakteristik Responden

Tidak memungkinkan menganalisa semua variable yang ada dengan berbagai keterbatasan dan sesuai aturan dalam proses pengujian validitas dan realibilitas alat ukur digunakan sampel minimal sebesar 30 responden. Gambaran responden (penghuni rumah) yang gambaran umumnya akan diuraikan dibawah ini :

5.1.1. Pekerjaan.

Jenis pekerjaan yang diuraikan dalam kuisioner terdiri dari Pegawai Negeri Sipil,  Pegawai Swasta, Pedagang/Wiraswasta, dan lain-lain (pensiunan). Dari hasil kuisioner dominasi pekerjaan responden adalah sebagai  Pegawai Swasta sebanyak 35%. Kemudian diikuti oleh pegawai negeri sipil 29%, pedagang/wiraswasta 24%, dan lain-lain (pensiunan) 12%.

5.1.2. Penghasilan.

Jika dilihat dari hasil kuisioner, jumlah penghasilan yang diperoleh responden setiap bulannya bisa dikatakan cukup tinggi. Hal ini dapat dibuktikan bahwa setengah dari jumlah responden mempunyai penghasilan > Rp. 2.000.000 per bulannya.

5.1.3. Lama Menghuni.

Dari responden yang diteliti, umumnya telah lama mereka beli   sekitar  > 10 tahun yang prosentasenya yaitu 63%  dan responden yang telah menghuni 6-10 tahun sebanyak 31%  serta yang telah menghuni 3-5 tahun sebanyak 6%. Hal ini menunjukan bahwa responden telah banyak melakukan perubahan  rumah untuk memenuhi kebutuhan akan ruang untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

5.1.4. Jumlah Anggota Keluarga.

Penambahan jumlah keluarga turut mempengaruhi keputusan penghuni mengadakan perubahan. Dari diagram dibawah ini terlihat bahwa pada awal menghuni rumah jumlah anggota keluarga dominan terdiri dari 3-4 orang sebanyak 58%, Mungkin hal ini terjadi karena penghuni merupakan pasangan muda yang masih dikaruniani satu atau dua orang anak.

5.1.5. Pendidikan.

Tingkat pendidikan responden cukup tinggi, terlihat dari hasil kuisioner bahwa responden mempunyai tingkat pendidikan terendah adalah SMA/sederajat, kemudian Akademi dan Sarjana. Responden yang tamat SMA/Sederajat jumlahnya cukup signifikan dibandingkan dengan tamatan akademi dan sarjana, yaitu sebanyak 65%.

5.1.6. Type Rumah Awal.

Unit-unit  rumah  yang disediakan ukurannya sudah standar dan yang dipilih untuk responden  ini adalah  type 21, type 36 dan type 45 dengan  luas  tanah sama yaitu 117 m2. Dari responden yang diteliti, ternyata type rumah 36 m2 lebih banyak diadakan transformasi rumah yang prosentasenya yaitu 60%.

5.2. Analisa Perubahan

Menganalisa factor perubahan yang telah dilakukan penghuni rumah ditinjau dari aspek perubahan ruang dan perubahan fungsi ruang. Dari sekian banyak ruang yang telah ditambah oleh responden pada rumah mereka, ternyata dapur dan ruang makan menjadi ruang yang paling sering ditambahkan, yaitu sekitar 19% artinya bahwa responden telah banyak menambah ruang dapur dan ruang makan yang menyatu. Karena untuk type 21 dan type 36 memang belum disediakan oleh pihak developer, sedangkan untuk type 45 sudah tersedia akan tetapi luasanya sangat minim.

5.3. Uji Validitas dan Reliabilitas.

Suatu instrument pengukuran dikatakan valid jika instrument dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Nilai table koefisien korelasi pada derajat bebas (db) = n-2. Pada penelitian ini diambil jumlah sampel 30 orang, sehingga pada db = n-2 = 20-2=28 dan α=5% diperoleh nilai table koefisien korelasi adalah 0,361. Pengujian Validitas Reliabilitas instrument dilakukan dengan bantuan  program computer yaitu program Statiscal Product and Service Solutions (SPSS). Hasil dari pengujian Validitas Reliabilitas instrument dengan program komputer didapat hasil sebagai berikut : Untuk menafsikan hasil uji reliabilitas diatas diketahui nilai koefisien alpha sebesar 0,498, dan nilai tabel  r adalah 0,361. Dengan demikian nilai hitung alpha lebih besar dari nilai table r atau 0,498 > 0,361. Artinya instrument angket dinyatakan reliabel dan dapat dipergunakan sebagai alat pengumpul data.

5.4. Analisa Crostab dan Chi-Square.

Analisa Crosstab ini merupakan analisis dasar untuk mengetahui hubungan antar variable kategori (nominal atau ordinal) yaitu : Perubahan Ruang dan Perubahan fungsi ruang terhadap ekonomi penghuni, jumlah awal penghuni rumah, jumlah anggota keluarga sekarang dan type rumah. Analisa Chi-square digunakan untuk menguji apakah distribusi frekwensi yang diamati menyimpang secara signifikan dari suatu distribusi frekwensi hipotesis.

5.4.1. Crosstab perubahan Ruang terhadap Pendapatan/Ekonomi Penghuni.

Dari tabel crosstab dibawah ini menunjukan bahwa responden terpilih lebih banyak yang mempunyai jumlah penghasilan tiap bulannya > 2.000.000 yaitu sebanyak 26,7%. Hal ini membuktikan bahwa dengan memiliki tingkat perekonomian yang tinggi, memberi kesempatan yang lebih besar bagi penghuni untuk melakukan perubahan pada rumahnya (Tipple,et.al,2000). Ditambahkan oleh Garrod, et.al.(dalam Sueca,2005) bahwa penghuni rumah yang mempunyai ruang lebih sedikit  besar kemungkinan mengadakan perluasan rumah dibandingkan dengan penghuni yang memiliki ruang yang lebih banyak. Tabel diatas menunjukan bahwa chi-square hitung sebesar20,625 dan chi-square tabel sebesar 7,815  (taraf kepercayaan 95% dan derajat bebas = 3), sehingga dapat diambil keputusan bahwa chi-square hitung > chi-square tabel atau 20,625 > 7,815 maka H0 ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara ekonomi penghuni dan perubahan  ruang.

5.4.2. Crosstab perubahan Ruang terhadap Lama Menghuni Rumah.

Responden rata-rata telah lama menghuni rumah dimana yang > 10 tahun sebanyak 63% dan yang telah menghuni 6-10 tahun sebanyak 31%, serta yang dapat dikategorikan baru menghuni 3-5 tahun sebanyak 6%. Dari tabel Crosstab diatas menunjukan bahwa responden terpilih adalah yang telah menghuni rumah 7-10 tahun sebanyak 56,7%. Hal ini membuktikan bahwa penghuni rumah yang telah lama mempunyai lebih besar kesempatan untuk merubah rumah. Tabel diatas menunjukan bahwa chi-square hitung sebesar4,510 dan chi-square tabel sebesar 7,815  (taraf kepercayaan 95% dan derajat bebas = 3), sehingga dapat diambil keputusan bahwa chi-square hitung < chi-square tabel atau 4,510 < 7,815 maka H0 diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat hubungan antara ekonomi penghuni dan perubahan  ruang.

5.4.3. Crosstab perubahan Ruang terhadap Jumlah Awal Menghuni Rumah.

Untuk melihat keterkaitan adanya Faktor Jumlah Anggota Keluarga yang bertambah dengan perubahan ruang dapat dilihat perbandingannya pada tabel crosstab dibawah ini. Tabel crosstab diatas menunjukan bahwa pada awal penghuni tinggal di rumah mereka, jumlah anggota keluarga ± 3-4 orang yaitu sebesar 46,7%.  Namun pada tahun-tahun berikutnya, jumlah anggota keluarga semakin bertambah menjadi 5 orang sebesar 16,5% seperti yang terlihat pada tabel crosstab dibawah ini. Dari uraian diatas terbukti bahwa adanya perubahan ruang juga dipengaruhi ukuran dan komposisi rumah tangga (Tipple, 2000), dan diantara kedua terdapat hubungan seperti yang terlihat dari hasil chi-square test. Tabel diatas menunjukan bahwa chi-square hitung sebesar15,236 dan chi-square tabel sebesar 5,991  (taraf kepercayaan 95% dan derajat bebas = 2), sehingga dapat diambil keputusan bahwa chi-square hitung > chi-square tabel atau 15,236 > 5,991  maka H0 ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara ekonomi penghuni dan perubahan  ruang.

5.4.4. Crosstab perubahan Ruang terhadap Pendidikan

Tabel crosstab diatas menunjukan bahwa pendidikan penghuni rumah paling banyak adalah SMA/Sederajat yaitu sebesar 40,0%. Tabel diatas menunjukan bahwa chi-square hitung sebesar2,049 dan chi-square tabel sebesar 5,991  (taraf kepercayaan 95% dan derajat bebas = 2), sehingga dapat diambil keputusan bahwa chi-square hitung < chi-square tabel atau 2,049 < 5,991  maka H0 diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat hubungan antara pendidikan dan perubahan  ruang.

5.4.5. Crosstab perubahan Ruang terhadap Type Rumah Awal

Tabel crosstab diatas menunjukan bahwa type rumah awal paling banyak melakukan perubahan ruang adalah Type 36  yaitu sebesar 60,0%. Tabel diatas menunjukan bahwa chi-square hitung sebesar3,175 dan chi-square tabel sebesar 5,991  (taraf kepercayaan 95% dan derajat bebas = 2), sehingga dapat diambil keputusan bahwa chi-square hitung < chi-square tabel atau 3,175 < 5,991  maka H0 diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat hubungan antara type rumah awal dan perubahan  ruang. .

5.5. Diskusi

Makna dari hasil analisa  data  menggunakan  Analisis Crosstab dan Chi-Square adalah sebagai berikut : A.  Hubungan Perubahan Ruang dengan Tingkat Penghasilan. Berdasarkan hasil analisis SPSS Asymp.sig (2-sided) sebesar 0,00. sehingga [0,05 ≥ 000].  Maka H0 di tolak dan H1 diterima. Artinya Terdapat hubungan antara Perubahan Ruang dengan Tingkat Penghasilan. B.  Hubungan Perubahan Ruang dengan Lama Menghuni Rumah. Berdasarkan hasil analisis SPSS Asymp.sig (2-sided) sebesar 0,221 sehingga [0,05 ≤ 0,221].  Maka H0 di terima dan H1 ditolak. Artinya Tidak terdapat hubungan antara Perubahan Ruang dengan Lama menghuni. C.  Hubungan Perubahan Ruang dengan Jumlah Awal Menghuni Rumah. Berdasarkan hasil analisis SPSS Asymp.sig (2-sided) sebesar 0,00. sehingga [0,05 ≥ 000].  Maka H0 di tolak dan H1 diterima. Artinya Terdapat hubungan antara Perubahan Ruang dengan Jumlah Awal Menghuni Rumah D.  Hubungan Perubahan Ruang dengan Pendidikan Berdasarkan hasil analisis SPSS Asymp.sig (2-sided) sebesar 0,359 sehingga [0,05 ≤ 0,359].  Maka H0 di terima dan H1 ditolak. Artinya Tidak terdapat hubungan antara Perubahan Ruang dengan Pendidikan E.   Hubungan Perubahan Ruang dengan Type Rumah Awal. Berdasarkan hasil analisis SPSS Asymp.sig (2-sided) sebesar 0,204. sehingga [0,05 ≤ 0,204].  Maka H0 di terima dan H1 ditolak. Artinya Tidak terdapat hubungan antara Perubahan Ruang dengan Type Rumah Awal.

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Perumahan Griya Mukti Sejahtera ini, maka hasil yang diperoleh adalah:

1.    Faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi rumah adalah :

a.    Faktor Pendapatan/Tingkat Ekonomi Penghuni,
b.    Faktor Jumlah Awal Anggota Keluarga,

2.    Faktor Pendapatan/Tingkat Ekonomi Penghuni, berperan penting dalam memberikan peluang bagi penghuni rumah untuk melakukan transformasi rumah, dimana dari hasil analisa terbukti bahwa  harga  χ = 20,625.

3.    Faktor Jumlah Awal Anggota Keluarga, seperti pada keluarga baru akan dipastikan bertambah anggota keluarganya dengan adanya anak, oleh karena itu makadengan bertambahnya anggota keluarga sangat  berperan penting dalam memberikan peluang bagi penghuni rumah untuk melakukan transformasi rumah, dari hasil analisa terbukti bahwa  harga  χ = 15,236

6.2.Saran

Dalam upaya penyediaan rumah untuk masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah perlu memperhatikan dan mempertimbangkan tingkat ekonomi calon penghuni. Agar tidak terjadi banyak perubahan rumah, maka disamping pertimbangan tingkat ekonomi calon penghuni adalah sangat diperlukan perencanaan konsep perumahan yang baik, yang mana hal tersebut dapat dilakukan penelitian kembali bagaimana konsep yang cocok dan dapat dijadikan standar type perumahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s